Ekonomi Kerthi Bali: Menelusuri Kebijakan Gubernur Koster Membangun Kemandirian Ekonomi dari Pertanian hingga Pariwisata

Agung Gempa Ulas Perjalanan Peta Jalan Transformasi Ekonomi Bali Sejak 2021, Penguatan Enam Sektor Unggulan, serta Arah Pembangunan Ekonomi yang Seimbang dan Berkelanjutan

DENPASAR, 28 Oktober 2026 – Perekonomian Bali memiliki keunggulan yang tumbuh dari kekayaan alam, kebudayaan, kreativitas masyarakat, serta perkembangan pariwisata yang telah dikenal dunia. Selama beberapa dekade, kegiatan pariwisata memberikan kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi, kesempatan kerja, investasi, perdagangan, dan berbagai aktivitas usaha masyarakat. Namun, perkembangan tersebut juga menghadirkan tantangan ketika struktur perekonomian daerah sangat dipengaruhi oleh perubahan kondisi perjalanan dan pariwisata global.

Pengalaman pandemi COVID-19 pada 2020–2021 memberikan pelajaran penting mengenai kerentanan perekonomian yang terlalu bergantung pada satu kelompok kegiatan utama. Pembatasan perjalanan, berkurangnya kunjungan wisatawan, serta terhentinya berbagai aktivitas usaha pada masa tersebut berdampak luas terhadap kehidupan masyarakat Bali. Kondisi itu memperlihatkan pentingnya memperkuat sektor ekonomi lainnya agar pertumbuhan ekonomi Bali menjadi lebih seimbang dan mampu menghadapi berbagai perubahan pada masa mendatang.

Kesadaran tersebut menjadi salah satu latar belakang pengembangan konsep Ekonomi Kerthi Bali yang mulai diperkuat pada periode pertama kepemimpinan Gubernur Bali Wayan Koster tahun 2018–2023 dan dilanjutkan pada periode kedua bersama Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta tahun 2025–2030.

Melalui rubrik Bali Membangun, I Gusti Agung Putu Gempa Yuliana atau Agung Gempa, praktisi IT Digital, entrepreneur, dan pemerhati kebijakan publik, mengulas perjalanan kebijakan transformasi ekonomi tersebut sebagai bagian dari literasi pembangunan Bali. Kajian ini menempatkan Ekonomi Kerthi Bali sebagai arah pembangunan yang berupaya memperkuat sumber daya lokal, meningkatkan nilai tambah produk masyarakat, serta memperluas kesempatan ekonomi di berbagai wilayah Bali.

Transformasi Ekonomi Kerthi Bali memperoleh landasan perencanaan yang lebih terstruktur melalui kerja sama Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas bersama Pemerintah Provinsi Bali. Pada 3 Desember 2021, pemerintah meluncurkan Peta Jalan Ekonomi Kerthi Bali Menuju Bali Era Baru: Hijau, Tangguh, dan Sejahtera, bersamaan dengan dokumen rencana pengembangan kawasan pariwisata Ubud, Tegallalang, dan Payangan.

Peluncuran peta jalan tersebut menjadi salah satu bagian dari agenda transformasi ekonomi pascapandemi yang didukung pemerintah pusat dan daerah. Dokumen ini disusun dengan memperhatikan potensi sumber daya alam, manusia, dan kebudayaan Bali serta menempatkan keberlanjutan lingkungan sebagai bagian penting dari pengembangan ekonomi.

Dalam sambutan pada peluncuran tersebut, Presiden RI Joko Widodo menekankan pentingnya diversifikasi ekonomi, pembenahan tata kelola pariwisata, serta pengembangan pariwisata yang semakin berkualitas dan memperhatikan lingkungan. Arah kebijakan tersebut menunjukkan bahwa penguatan sektor ekonomi di luar pariwisata tidak dimaksudkan untuk meninggalkan pariwisata, melainkan membangun hubungan ekonomi yang lebih seimbang dan saling mendukung.

Konsep Ekonomi Kerthi Bali bertumpu pada enam sektor unggulan, yakni pertanian dalam arti luas, kelautan dan perikanan, industri manufaktur dan industri berbasis budaya Bali, industri kecil menengah serta UMKM dan koperasi, ekonomi kreatif dan digital, serta pariwisata.

Keenam sektor tersebut mempunyai karakteristik dan potensi yang berbeda, tetapi dapat dikembangkan dalam satu sistem perekonomian yang saling terhubung. Pertanian menyediakan kebutuhan pangan, kelautan dan perikanan menghasilkan sumber daya ekonomi pesisir, industri meningkatkan nilai tambah produk, UMKM dan koperasi memperluas partisipasi masyarakat, ekonomi digital mendukung produktivitas serta akses pasar, sementara pariwisata menjadi salah satu penggerak permintaan terhadap produk dan jasa lokal.

Sektor pertanian, misalnya, mempunyai peranan penting bukan hanya sebagai penghasil bahan pangan, tetapi juga sebagai bagian dari perlindungan lingkungan dan lanskap budaya Bali. Pengembangan pertanian organik, pemasaran produk lokal, penguatan subak, serta perlindungan lahan produktif memiliki hubungan langsung dengan upaya mempertahankan kemampuan produksi sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.

Melalui keterhubungan dengan perdagangan dan pariwisata, hasil pertanian dapat memperoleh kesempatan pasar yang lebih luas. Hotel, restoran, pusat perdagangan, serta industri pengolahan membutuhkan pasokan bahan pangan dan berbagai produk lokal yang memiliki mutu serta kontinuitas produksi yang baik.

Namun, penguatan hubungan tersebut membutuhkan sistem distribusi yang efisien, pengembangan standar kualitas, dukungan penyimpanan, serta kemitraan usaha yang memungkinkan petani dan pelaku UMKM memperoleh manfaat ekonomi secara lebih adil.

Sektor kelautan dan perikanan juga memiliki potensi penting dalam pengembangan ekonomi Bali. Sebagai wilayah kepulauan, Bali mempunyai sumber daya pesisir dan laut yang dapat mendukung perikanan tangkap, budidaya, pengolahan hasil laut, perdagangan, serta kegiatan ekonomi masyarakat pesisir.

Pada Oktober 2026, Gubernur Koster kembali menyampaikan pentingnya pengembangan potensi kelautan dan perikanan berbasis ilmu pengetahuan, riset, inovasi, dan teknologi. Hal itu disampaikan saat menerima peserta Pertemuan Ilmiah Tahunan XXII Ikatan Sarjana Oseanologi Indonesia di Rumah Jabatan Gubernur Bali, Jayasabha, Denpasar, pada Kamis, 15 Oktober 2026.

Pengembangan ekonomi kelautan membutuhkan keseimbangan antara pemanfaatan potensi sumber daya dan perlindungan ekosistem. Peningkatan produktivitas perikanan, kualitas hasil produksi, fasilitas penyimpanan, dan akses pemasaran perlu berjalan bersama pengelolaan lingkungan laut yang berkelanjutan.

Sementara itu, penguatan industri manufaktur dan industri berbasis budaya Bali diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah produk lokal. Bali memiliki berbagai produk kerajinan, makanan, minuman tradisional, tekstil, dan hasil industri kreatif yang dapat dikembangkan melalui peningkatan kualitas produksi, pengemasan, inovasi desain, serta perluasan akses pasar.

Kebijakan pemanfaatan dan pemasaran produk lokal yang telah dikembangkan melalui Pergub Bali Nomor 99 Tahun 2018 juga mempunyai hubungan dengan arah transformasi ekonomi tersebut. Produk yang dihasilkan masyarakat diharapkan tidak hanya dipasarkan sebagai bahan mentah atau barang dengan nilai tambah terbatas, tetapi dapat dikembangkan melalui proses pengolahan dan penguatan identitas produk.

Dalam hal ini, kekhasan Bali merupakan salah satu modal ekonomi yang perlu dikelola secara tepat. Namun, pemanfaatan identitas budaya untuk kegiatan industri tetap harus memperhatikan pelestarian nilai, pengetahuan tradisional, dan hak masyarakat yang menjadi pemilik serta penerus warisan budaya tersebut.

Pengembangan UMKM dan koperasi menjadi bagian penting lainnya dalam Ekonomi Kerthi Bali. Kegiatan usaha masyarakat tersebar pada berbagai bidang, mulai dari pertanian, perdagangan, kuliner, kerajinan, jasa, hingga produksi rumah tangga. Melalui peningkatan keterampilan, kelembagaan usaha, akses pembiayaan, standardisasi produk, dan pemasaran, pelaku UMKM dapat memperoleh kesempatan berkembang menjadi bagian dari rantai pasok ekonomi yang lebih luas.

Koperasi juga mempunyai peluang untuk memperkuat kegiatan ekonomi bersama, terutama dalam pengadaan bahan baku, pengolahan produk, pemasaran, dan distribusi. Namun, pengembangan koperasi membutuhkan tata kelola yang baik, transparansi, kemampuan manajemen, dan model usaha yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan anggota serta masyarakat.

Perkembangan ekonomi digital membuka peluang baru bagi transformasi tersebut. Pemanfaatan teknologi informasi memungkinkan pelaku usaha memperkenalkan produk, mengelola transaksi, memperluas pasar, serta meningkatkan efisiensi kegiatan operasional. Bagi Bali, transformasi digital dapat mendukung usaha mikro dan kecil agar tidak hanya bergantung pada pasar di sekitar tempat usaha.

Kegiatan pelatihan digital, penguatan keterampilan pemasaran, pemanfaatan platform perdagangan elektronik, serta penggunaan teknologi untuk pencatatan keuangan menjadi bagian dari kebutuhan pengembangan sumber daya manusia. Namun, kemampuan digital tidak cukup hanya diukur dari penggunaan aplikasi. Pelaku usaha juga membutuhkan pemahaman manajemen, kualitas pelayanan, keamanan informasi, dan kemampuan mengembangkan produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar.

Di tengah penguatan berbagai sektor tersebut, pariwisata tetap memiliki peranan penting bagi perekonomian Bali. Pengembangan Ekonomi Kerthi Bali tidak menempatkan pariwisata sebagai sektor yang harus ditinggalkan, tetapi sebagai bagian dari perekonomian yang perlu diperkuat kualitasnya serta keterhubungannya dengan sektor-sektor lokal lainnya.

Pariwisata yang berkualitas diharapkan dapat meningkatkan manfaat ekonomi bagi masyarakat melalui penggunaan produk pertanian, hasil perikanan, kerajinan, layanan transportasi, usaha kuliner, serta kegiatan ekonomi kreatif. Dengan demikian, pertumbuhan pariwisata mempunyai peluang memberikan dampak yang lebih luas terhadap kegiatan usaha di luar kawasan destinasi utama.

Data Badan Pusat Statistik Provinsi Bali menunjukkan bahwa perekonomian Bali pada 2025 tumbuh sebesar 5,82 persen. Memasuki 2026, pertumbuhan ekonomi Bali pada triwulan kedua tercatat sebesar 5,78 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pada triwulan kedua 2026, nilai Produk Domestik Regional Bruto Bali atas dasar harga berlaku tercatat sekitar Rp89,27 triliun. Sektor penyediaan akomodasi dan makan minum masih menjadi penyumbang terbesar dalam struktur ekonomi Bali dengan kontribusi sebesar 21,91 persen.

Sementara itu, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menyumbang sekitar 12,85 persen, disusul transportasi dan pergudangan sekitar 10,21 persen, serta konstruksi sekitar 9,45 persen.

Gambaran tersebut memperlihatkan bahwa sektor yang berkaitan dengan pariwisata masih memiliki peranan besar, sedangkan pertanian, perdagangan, industri, konstruksi, transportasi, dan berbagai jasa lainnya juga menjadi bagian penting dari perekonomian Bali.

Dalam memahami data tersebut, perlu diperhatikan bahwa kontribusi sektor penyediaan akomodasi dan makan minum tidak sama dengan keseluruhan kontribusi pariwisata. Aktivitas wisatawan juga berkaitan dengan sektor transportasi, perdagangan, hiburan, serta sejumlah kegiatan ekonomi lainnya, sehingga pengukuran keseluruhan ekonomi pariwisata memerlukan pendekatan statistik yang lebih luas.

Perkembangan tersebut menunjukkan pentingnya transformasi ekonomi yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan pertumbuhan secara keseluruhan, tetapi juga memperhatikan pemerataan kesempatan dan kemampuan sektor-sektor lokal untuk berkembang secara berkelanjutan.

Dalam laporan perekonomian yang diterbitkan Bank Indonesia pada September 2026, pertumbuhan ekonomi Bali triwulan kedua juga dijelaskan ditopang oleh kegiatan konstruksi, pertanian, konsumsi rumah tangga, dan investasi. Hal tersebut memberikan gambaran bahwa berbagai kelompok kegiatan ekonomi mempunyai kontribusi terhadap perkembangan ekonomi Bali.

Namun, pertumbuhan ekonomi yang positif belum dengan sendirinya menjelaskan pemerataan manfaat hingga tingkat rumah tangga, desa, dan kelompok pelaku usaha. Karena itu, pemantauan pembangunan juga perlu memperhatikan perkembangan kesempatan kerja, produktivitas, pendapatan masyarakat, kondisi UMKM, serta kesenjangan antarwilayah.

Dalam perspektif Agung Gempa, transformasi Ekonomi Kerthi Bali menjadi penting karena setiap wilayah mempunyai potensi yang tidak selalu sama. Kawasan dengan kegiatan pariwisata yang berkembang pesat memiliki karakteristik ekonomi berbeda dibandingkan wilayah pertanian, perkebunan, perikanan, atau kawasan yang sedang mengembangkan industri pengolahan.

Melalui penguatan pusat-pusat kegiatan ekonomi yang sesuai dengan potensi lokal, pembangunan diharapkan dapat memperluas kesempatan kerja dan kegiatan usaha di berbagai kabupaten serta kota di Bali. Namun, pengembangan pusat ekonomi baru tetap membutuhkan dukungan infrastruktur, transportasi, sumber daya manusia, investasi yang sesuai tata ruang, serta pengelolaan lingkungan.

Memasuki periode kedua Gubernur Koster, transformasi Ekonomi Kerthi Bali tetap menjadi bagian dari prioritas pembangunan daerah. Dalam arah pembangunan tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali mengusung tema penyeimbangan struktur dan fundamental ekonomi berdasarkan nilai-nilai kearifan lokal.

Arah tersebut selanjutnya muncul dalam pembahasan Rancangan APBD Tahun Anggaran 2027, dengan tema pembangunan yang direncanakan berupa Akselerasi Transformasi Ekonomi Kerthi Bali. Dalam dokumen perencanaan tersebut, pemerintah menempatkan penguatan sektor-sektor produktif, pembangunan sumber daya manusia, serta peningkatan efisiensi dan efektivitas anggaran sebagai bagian dari agenda pembangunan berikutnya.

Namun, perlu dipahami bahwa rancangan anggaran dan sasaran pertumbuhan merupakan bagian dari proses perencanaan, bukan realisasi hasil pembangunan. Pelaksanaannya tetap memerlukan pembahasan, penetapan anggaran, kesiapan program, serta evaluasi perkembangan ekonomi.

Dalam pembangunan jangka panjang, Ekonomi Kerthi Bali juga mempunyai hubungan dengan Haluan Pembangunan Bali Masa Depan, 100 Tahun Bali Era Baru 2025–2125. Pembangunan ekonomi tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat saat ini, tetapi juga untuk menjaga ketersediaan sumber daya alam, meningkatkan kualitas manusia, dan mempertahankan warisan kebudayaan sebagai kekuatan generasi mendatang.

Bagi Agung Gempa, kesinambungan tersebut menempatkan pendidikan dan penguasaan teknologi sebagai unsur yang semakin penting. Generasi muda Bali perlu memperoleh kesempatan mengembangkan keterampilan, kewirausahaan, inovasi, serta kemampuan memanfaatkan perkembangan teknologi agar dapat berperan dalam berbagai sektor ekonomi.

Penguatan ekonomi lokal juga memerlukan sinergi pemerintah, dunia usaha, lembaga pendidikan, koperasi, komunitas, dan masyarakat. Kebijakan pembangunan dapat memberikan arah, tetapi keberhasilan transformasi ekonomi sangat bergantung pada kemampuan seluruh pihak menerjemahkannya menjadi kegiatan produksi, pelayanan, inovasi, dan penciptaan kesempatan kerja.

Menjelang penghujung 2026, perkembangan enam sektor unggulan Ekonomi Kerthi Bali menjadi salah satu bidang yang layak memperoleh perhatian dalam evaluasi pembangunan daerah. Data pertumbuhan ekonomi, perubahan struktur PDRB, kesempatan kerja, investasi, kinerja UMKM, serta perkembangan sektor pertanian dan industri dapat menjadi bahan literasi publik untuk mengetahui kemajuan dan kebutuhan pembangunan berikutnya.

Melalui rubrik Bali Membangun, Agung Gempa mengajak masyarakat memahami bahwa pembangunan ekonomi yang berkelanjutan bukan hanya persoalan meningkatnya jumlah wisatawan, investasi, atau aktivitas perdagangan. Lebih jauh, pembangunan ekonomi juga harus membuka kesempatan bagi petani, nelayan, pengrajin, pelaku UMKM, koperasi, tenaga kerja, dan generasi muda untuk memperoleh manfaat dari kemajuan Bali.

Pada akhirnya, transformasi Ekonomi Kerthi Bali merupakan upaya menyiapkan perekonomian yang semakin beragam dan saling mendukung, dengan memanfaatkan kekuatan alam, manusia, dan kebudayaan sebagai fondasi pembangunan.

Bali yang terus berkembang membutuhkan pariwisata berkualitas, pertanian produktif, industri bernilai tambah, usaha masyarakat yang kuat, serta teknologi yang mampu membuka peluang baru. Melalui kesinambungan kebijakan dan kerja bersama, pembangunan ekonomi diharapkan tidak hanya menghasilkan pertumbuhan, tetapi juga meningkatkan kemandirian, pemerataan kesempatan, dan kesejahteraan masyarakat Bali dari generasi ke generasi.

(NSKLB)

Bagikan:

Mungkin Anda Menyukai