Rayakan Hari Suci Nyepi Caka 1948 dan Idul Fitri 2026 dalam Bingkai Ajeg Bali

DENPASAR – Menjelang momentum spiritual yang luar biasa di Bali, pesan kesejukan terpancar dari kolaborasi tokoh legislatif dan tokoh muda puri. Ketua DPRD Provinsi Bali, Dewa Made Mahayadnya (Dewa Jack), bersama Ketua Pansus Tata Ruang, Aset, dan Perizinan (TRAP) DPRD Bali, Dr. (c) I Made Supartha, S.H., M.H., menyampaikan ucapan selamat menyongsong Hari Suci Nyepi Tahun Baru Caka 1948 yang jatuh berdekatan dengan Hari Raya Idul Fitri 1447 H di tahun 2026.

Kedua politisi senior PDI Perjuangan tersebut menekankan bahwa kerukunan ini adalah fondasi utama pembangunan Bali. Senada dengan hal tersebut, Tokoh Muda Puri Andul yang merupakan salah satu Puri tertua di Bali Barat yaitu I Gusti Agung Putu Gempa Yuliana (Agung Gempa), turut memberikan penguatan mengenai pentingnya menjaga jati diri Bali di tengah arus globalisasi.

Pesan Kesucian dalam Keheningan
Dalam pernyataannya, Dewa Jack dan I Made Supartha mengajak seluruh krama Bali untuk memaknai Nyepi sebagai ruang refleksi diri yang mendalam (Mulatsari). Sebagai kader yang menjunjung tinggi semangat nasionalisme, mereka menegaskan bahwa keheningan Nyepi adalah jalan untuk menyucikan jiwa dan menjaga keseimbangan alam.

“Rahajeng Rahina Suci Nyepi Tahun Baru Caka 1948. Mari kita jadikan momentum Catur Brata Penyepian ini untuk memperkokoh harmoni antara manusia, Tuhan, dan lingkungan,” ujar mereka dalam pernyataan bersama.

Ajeg Bali di Era Digital dan Globalisasi
Menambahkan dimensi pelestarian budaya yang modern, Agung Gempa menekankan bahwa tantangan masa kini harus dijawab dengan keteguhan prinsip sekaligus inovasi. Sebagai sosok dari lini keturunan Puri tertua di Bali Barat yang kini aktif di dunia digital, Agung Gempa berkomitmen untuk mengangkat seluruh potensi Bali ke panggung dunia.

“Di era globalisasi lintas generasi ini, Bali harus tetap Ajeg menjalankan adat, tradisi, dan budaya Agama Hindu Dresta Bali. Tentu hal ini harus selaras dengan perkembangan zaman,” tegas Agung Gempa.

Pria yang juga dikenal sebagai pelaku ekonomi kreatif serta mengemban tugas di bidang IT-Kominfos Dekopinwil Bali ini menambahkan, “Digitalisasi adalah sarana bagi kita untuk memperkenalkan keluhuran budaya dan potensi ekonomi lokal Bali ke kancah internasional tanpa mencabut akar tradisi kita.”

Simbol Toleransi dan Kemenangan
Tak hanya untuk umat Hindu, para tokoh ini juga memberikan ucapan selamat kepada umat Muslim yang akan merayakan kemenangan Idul Fitri. Pertemuan dua hari besar ini dipandang sebagai wujud nyata dari spirit Tat Twam Asi yang hidup di Bali.

“Selamat Hari Raya Idul Fitri 2026 bagi saudara-saudara umat Muslim. Semoga kemenangan ini membawa berkah kesucian serta mempererat tali persaudaraan kita sebagai sesama anak bangsa,” tambah Dewa Jack.

Wujud Swadharma untuk Bali
Dalam mengemban tugas menjaga marwah legislatif dan mengawal regulasi tata ruang, Dewa Jack dan I Made Supartha menegaskan bahwa tanggung jawab mereka adalah sebuah Swadharma suci. Komitmen ini selaras dengan semangat yang digaungkan Agung Gempa dalam memajukan ekonomi kreatif dan ekonoimi kerakyatan berbasis koperasi di Bali guna memastikan peningkatan kesejahteraan masyarakat yang berbasis pada nilai-nilai lokal.

Pesan kolektif ini diharapkan menjadi pendorong bagi seluruh masyarakat untuk menjaga kondusivitas dan merayakan perbedaan sebagai kekuatan utama bangsa Indonesia di bawah panji Bhinneka Tunggal Ika. (NSKLB)

Bagikan:

Mungkin Anda Menyukai