Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Bali Dalam Dialog Interaktif “Mencegah Pikun di Masa Tua, di RRI Singaraja, Senin (20/6)”

(nangunsatkerthilokabali.com) – Tim Penggerak PKK yang salah satu tugas pokoknya adalah berperan untuk melakukan aksi sosial dan sosialisasi dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara umum secara berkelanjutan terus turun ke lapangan, selain untuk menyentuh langsung kondisi masyarakat yang sesungguhnya, juga digunakan untuk melakukan sosialisasi pemahaman tentang pengetahuan bagi usia anak-anak hingga lanjut usia. Untuk menyebarkan informasi secara menyeluruh, Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Bali Ny. Putri Koster melakukan sosialisasi melalui media elektronik, seperti yang dilaksanakan pada Senin (20/6) hari ini di RRI Singaraja, Ny. Putri Koster didampingi NS. Cokorda Istri Inten Purwaningsih (Koordinator Alzhiemer Wilayah Bali) menjelaskan sejumlah kiat melawan pikun di masa tua.

Pada umumnya kondisi pikun yang dialami oleh orang yang lanjut usia menjadi hal biasa yang dimiliki setiap orang. Namun, berbeda dari segi kesehatan bahwa pikun itu merupakan salah satu gangguan yang dimiliki seseorang karena mengalami faktor kehilangan konsentrasi dan disebut dimensia.

Dimensia ini bisa terjadi atau dialami oleh orangtua bahkan remaja usia muda yang pasif atau memilih tidak aktif lagi dalam berkegiatan. Dimensia atau pikun ini dapat muncul karena kebanyakan diam, kebanyakan tidur, jarang olahraga, stres, memendam masalah tanpa ada penyelesaian dan memilih untuk mengkhawatirkan kehidupan yang terlalu berlebihan.

“Ketakutan ini menyebabkan kita malas untuk beraktivitas sehingga mengganggu otot untuk bergerak. Hal ini tentu saja mempengaruhi otak yang mengalami perubahan sehingga mempengaruhi mental dan fisik”, ungkap Ny. Putri Koster.

“Untuk mencegah terjadinya pikun dini atau pikun berkelanjutan, maka harus ditentukan pola hidup yang sehat dengan istirahat yang cukup, pola makan yang sehat serta melaksanakan aktivitas yang fokus dusamping juga tetap melakukan komunikasi yang baik dengan anggota keluarga dan oranglain disekitar kita”, imbuh Ny. Putri Koster yang memiliki prinsip untuk tidak berhenti belajar selama ada kesempatan.

Agar tidak terjadi dimensia dini, wajib disosialisasikan agar setiap orang tidak menganggap hal kecil adalah hal sepele agar tidak semakin menjadi masalah besar.

NS. Cokorda Istri Inten Purwaningsih selaku Koordinator Alzhiemer Wilayah Bali menjelaskan bahwa pikun atau dimensia adalah penyakit yang dapat terjadi pada siapa saja dan mengakibatkan terganggunya aktivitas sehari-hari yang diakibatkan oleh pola hidup yang dilakukan saat usia mudanya.

“Pola hidup semasa muda, contohnya kurang olahraga, menyimpan masalah dalam hati, menutup komunikasi dengan oranglain sehingga cenderung menyebabkan stres menjadi pemicu atau faktor pikun bagi kita. Sehingga saya sarankan bagi semua orang untuk menerapkan pola hidup yang sehat dan teratur dengan perencanaan matang bik itu pola makan, melakukan kegiatan (hobi) yang disukai, pola istirahat dan membuka pertemanan/ komunikasi dengan siapa saja selama itu membawa hal positif “, ungkapnya.

Untuk menjadikan hidup yang baik dan sejahtera, perlu kita tanamkan bagi seluruh anggota keluarga untuk hidup damai berdampingan, terbuka dalam menyelesaikan masalah dan menjaga orangtua (apakah itu ibu dan ayah atau kakek dan nenek kita) agar para lansia mampu hidup damai dengan ingatan yang kuat dan tentunya menjadi lansia yang berkualitas.

Dijelaskannya lagi bahwa pikun tidak dapat diobati namun dapat di cegah. Karena ciri-ciri pikun dapat kita deteksi yakni akan terlihat sulitnya seseorang fokus atau konsentrasi dalam mengerjakan kegiatan sehari-hari, cepat lupa menaruh sesuatu dalam jangka yang secara terus-menerus, dis orientasi waktu (tidak tahu jalan pulang kerumah, tidak tahu nama anggota keluarga) dan sulit memberikan keputusan kepada anak-anaknya.

Membangkitkan partisipasi aktif dari masyarakat disekitar agar dapat berdaya guna kecerdasan, sehingga mampu untuk dapat maju dan berkembang dengan berbekal akhlak mulia dan berbudi luhur yang sudah tertanam di dalam karakteristik pribadinya sendiri.

Untuk menghindari terjadinya dimensia atau pikun, lansia harus sering diajak untuk melakukan kegiatan yang familiar, berkumpul dengan teman teman dan menghibur diri dengan sesama lansianya.

(AGP/GK)

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan:

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.