Dari Pasar Gotong Royong periode pertama hingga penguatan pasar rakyat lintas kabupaten/kota pada periode kedua, pemberdayaan ekonomi masyarakat memerlukan hasil yang terukur.
DENPASAR – Penguatan ekonomi rakyat tidak selalu berawal dari pembangunan pusat perdagangan berskala besar. Bagi petani, perajin, pedagang kecil, dan pelaku usaha rumah tangga, kesempatan bertemu langsung dengan pembeli dapat menjadi pintu masuk untuk memperbaiki penjualan, mengenalkan produk, dan mempertahankan keberlangsungan usaha. Dalam konteks Bali, pasar rakyat juga memiliki dimensi sosial karena aktivitas berbelanja dapat dihubungkan dengan semangat berbagi kepada masyarakat yang membutuhkan.
Pada periode pertama kepemimpinan Gubernur Bali Wayan Koster tahun 2018–2023, kegiatan pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui Tim Penggerak PKK Bali berkembang dalam berbagai bentuk, termasuk Pasar Gotong Royong pada masa pandemi COVID-19. Kegiatan tersebut menjadi salah satu upaya mempertemukan produk UMKM lokal dengan konsumen ketika aktivitas ekonomi mengalami tekanan. Pendekatan ini kemudian berkembang melalui kegiatan Penggak PKK dan program lain yang berorientasi pada produk masyarakat.
Memasuki periode kedua kepemimpinan Gubernur Koster sejak 2025, program Pasar Rakyat Berbelanja dan Berbagi dilanjutkan melalui penyelenggaraan bergilir di berbagai kabupaten/kota. Ketua TP PKK Provinsi Bali, Ibu Putri Suastini Koster, menjelaskan bahwa program tersebut ingin membangun kebiasaan masyarakat untuk berbelanja produk lokal sekaligus memperkuat kepedulian terhadap keluarga yang membutuhkan dukungan.
Pada kegiatan di Kabupaten Jembrana, Jumat, 7 Agustus 2026, sebanyak 115 pelaku UMKM lokal ikut menghadirkan produk kerajinan, pertanian, peternakan, perkebunan, kelautan, tenun, dan kuliner. TP PKK Bali juga menyalurkan paket bantuan kepada warga. Di Kabupaten Badung, kegiatan yang berlangsung pada 9 Oktober 2026 melibatkan 131 pelaku usaha dan pedagang lokal. Menurut laporan Pemerintah Provinsi Bali yang diterbitkan 23 Oktober 2026, transaksi pada kegiatan Badung mencapai sekitar Rp322 juta dalam hitungan jam.
Angka tersebut memperlihatkan potensi aktivitas ekonomi ketika produsen dan konsumen dapat bertemu secara langsung. Namun nilai transaksi pada satu kegiatan belum dapat digunakan sebagai ukuran tetap perkembangan pendapatan seluruh peserta. Untuk menilai dampak yang lebih luas, diperlukan data apakah pelaku usaha mendapat pelanggan berulang, peningkatan kapasitas produksi, perbaikan pemasaran, dan akses usaha setelah kegiatan berakhir.
Keunikan pasar rakyat dalam pendekatan ini terletak pada hubungan antara kegiatan ekonomi dan partisipasi sosial. Barang yang dibeli dari pelaku usaha dapat disalurkan kembali kepada warga yang membutuhkan, sehingga terdapat dua kelompok penerima manfaat: penjual yang memperoleh transaksi dan masyarakat yang menerima bantuan. Model semacam ini tetap memerlukan pencatatan terbuka tentang pengadaan, distribusi, dan penerima agar pelaksanaannya terukur serta tepat sasaran.
Di sisi lain, penguatan produk lokal tidak cukup dilakukan melalui kegiatan pasar sesaat. Pelaku usaha membutuhkan kesinambungan jaringan konsumen, kemampuan menghitung harga pokok, pengemasan yang baik, kepastian pasokan, serta keterampilan promosi. Koperasi, lembaga pendamping, desa, dan jaringan usaha pariwisata berpotensi memperluas pemasaran apabila kerja sama dibangun secara profesional.
Agung Gempa, praktisi IT Digital, entrepreneur, dan pemerhati kebijakan publik, memandang pasar rakyat sebagai kesempatan menghubungkan aktivitas ekonomi komunitas dengan sistem pemasaran berbasis data. Pendataan peserta, katalog produk, pencatatan transaksi, serta komunikasi dengan pelanggan setelah kegiatan dapat membantu produsen memperoleh manfaat yang lebih berkelanjutan. Teknologi diposisikan sebagai penunjang, bukan menggantikan interaksi sosial yang menjadi kekuatan pasar rakyat.
Program ini juga memerlukan indikator yang jernih. Banyaknya peserta, nilai transaksi, jumlah penerima bantuan, pengulangan pembelian, dan jumlah usaha yang berhasil memperluas pasar harus dibedakan satu sama lain. Pengukuran tersebut akan membantu pemerintah dan masyarakat melihat bagian program yang efektif serta bagian yang masih perlu diperbaiki.
Kesinambungan dari Pasar Gotong Royong pada periode pertama menuju Pasar Rakyat Berbelanja dan Berbagi pada periode kedua menunjukkan perkembangan bentuk kegiatan pemberdayaan yang dapat ditelusuri. Dalam kerangka pembangunan Bali jangka panjang, tujuan utamanya adalah memperkuat kapasitas ekonomi masyarakat sembari menjaga kepedulian sosial, sehingga manfaat perdagangan tidak berhenti pada satu hari kegiatan.
(NSKLB)
