Wawancara Khusus: Agung Gempa: “Mendoyo Harus Maju, Tetapi Jangan Kehilangan Jati Diri Budaya Bali”

Jembrana – Nama I Gusti Agung Putu Gempa Yuliana, atau yang lebih dikenal sebagai Agung Gempa, selama ini dikenal sebagai praktisi teknologi informasi, pegiat transformasi digital, serta aktif dalam berbagai kegiatan sosial, koperasi, dan pemberdayaan masyarakat di Bali. Dalam wawancara khusus bersama Media Bali Online, Putra Mendoyo ini membagikan pandangannya mengenai masa depan Kecamatan Mendoyo di tengah perkembangan teknologi dan perubahan zaman.

Media Bali Online:

Banyak orang berbicara tentang pembangunan. Menurut Anda, apa yang paling dibutuhkan Mendoyo saat ini?

Agung Gempa:

Saya melihat Mendoyo memiliki potensi yang luar biasa. Kita memiliki pantai, sawah, perkebunan, budaya, tradisi, masyarakat yang gotong royong, hingga potensi wisata yang sangat indah. Tetapi yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa potensi itu belum sepenuhnya mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat?

Menurut saya, pembangunan tidak cukup hanya membangun jalan atau gedung. Yang lebih penting adalah membangun manusianya, memperkuat ekonomi rakyat, membuka peluang kerja, serta memastikan setiap desa memiliki arah pembangunan yang jelas.

Saya ingin melihat Mendoyo semakin maju tanpa kehilangan jati diri budaya Bali.

Media Bali Online:

Anda cukup sering menyampaikan istilah “Mendoyo Digital”. Apa sebenarnya yang dimaksud?

Agung Gempa:

Mendoyo Digital bukan berarti semua harus serba online.

Digital hanyalah alat.

Yang ingin kita bangun adalah bagaimana teknologi membantu kehidupan masyarakat.

Petani dapat memasarkan hasil panen lebih luas.

UMKM mampu menjual produknya ke luar daerah.

Anak-anak muda memiliki keterampilan digital.

Desa memiliki pelayanan yang lebih baik.

Informasi menjadi lebih cepat.

Dan masyarakat memperoleh peluang ekonomi baru.

Teknologi harus menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat, bukan sekadar menjadi tren.

Media Bali Online:

Apakah digitalisasi tidak akan menggerus budaya Bali?

Agung Gempa:

Justru sebaliknya.

Budaya Bali harus menjadi fondasi.

Teknologi adalah alat untuk memperkuat budaya, bukan menggantikannya.

Bayangkan setiap desa memiliki dokumentasi digital mengenai sejarahnya.

Anak-anak muda membuat konten budaya.

Wisatawan mengenal tradisi kita melalui media digital.

UMKM menjual produk budaya ke seluruh Indonesia bahkan dunia.

Inilah yang saya maksud dengan Desa Budaya Modern.

Budaya tetap hidup.

Teknologi membantu memperluas manfaatnya.

Media Bali Online:

Bagaimana dengan generasi muda?

Agung Gempa:

Ini yang paling saya pikirkan.

Banyak anak muda sebenarnya memiliki kemampuan.

Namun kesempatan masih terbatas.

Menurut saya, setiap banjar seharusnya menjadi pusat lahirnya ekonomi kreatif.

Internet yang baik.

Pelatihan rutin.

Ruang kerja bersama.

Pendampingan usaha.

Pelatihan Artificial Intelligence.

Digital marketing.

Editing video.

Website.

Desain grafis.

Pemrograman.

Konten kreator.

Kita tidak mungkin menunggu perusahaan besar datang membuka ribuan lapangan kerja.

Tetapi kita bisa menciptakan ribuan peluang kerja baru melalui kreativitas masyarakat sendiri.

Media Bali Online:

Anda juga sering membahas Internet Banjar. Mengapa itu penting?

Agung Gempa:

Internet hari ini bukan lagi kebutuhan mewah.

Internet sudah menjadi infrastruktur dasar.

Kalau dulu desa membangun jalan.

Sekarang desa juga harus membangun akses informasi.

Saya membayangkan suatu hari nanti setiap bale banjar memiliki akses internet yang baik.

Anak-anak belajar.

UMKM berjualan.

Pemuda membuat konten.

Pelatihan berlangsung.

Masyarakat memperoleh informasi.

Bale Banjar menjadi pusat aktivitas masyarakat sekaligus pusat pengembangan sumber daya manusia.

Media Bali Online:

Bagaimana dengan potensi wisata Yeh Meseha?

Agung Gempa:

Saya melihat Yeh Meseha sebagai salah satu potensi besar Mendoyo yang masih bisa dikembangkan secara berkelanjutan.

Namun saya tidak ingin melihat pembangunan yang hanya berorientasi pada jumlah wisatawan.

Yang jauh lebih penting adalah bagaimana masyarakat sekitar memperoleh manfaat.

Misalnya melalui homestay.

UMKM.

Kuliner.

Pemandu wisata lokal.

Camping.

Trekking.

Produk pertanian.

Kegiatan budaya.

Saya membayangkan Yeh Meseha menjadi bagian dari kawasan wisata terpadu yang terhubung dengan Delod Berawah, wisata pantai, kuliner ikan bakar, hingga tradisi Makepung.

Kalau seluruh potensi ini disinergikan, dampaknya tidak hanya dirasakan satu desa, tetapi dapat menggerakkan ekonomi kawasan.

Media Bali Online:

Menurut Anda, apa tantangan terbesar pembangunan Mendoyo?

Agung Gempa:

Menurut saya, tantangan terbesar bukan kurangnya potensi.

Tantangan terbesar adalah bagaimana menyatukan semua potensi itu.

Kadang desa berjalan sendiri.

Komunitas berjalan sendiri.

Pemerintah berjalan sendiri.

Padahal kalau semuanya bersinergi, hasilnya akan jauh lebih besar.

Saya percaya pembangunan hari ini tidak bisa lagi dilakukan sendiri-sendiri.

Harus ada kolaborasi antara masyarakat, desa, desa adat, pemerintah daerah, pemerintah provinsi, pemerintah pusat, dunia usaha, perguruan tinggi, dan komunitas.

Media Bali Online:

Kalau boleh merangkum, seperti apa Mendoyo yang Anda impikan?

Agung Gempa:

Saya ingin melihat Mendoyo menjadi kawasan yang maju, masyarakatnya sejahtera, generasi mudanya memiliki banyak peluang, UMKM berkembang, koperasi semakin kuat, desa-desa semakin tertata, budaya tetap lestari, dan teknologi dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Saya percaya kemajuan tidak harus menghilangkan identitas.

Justru budaya Bali harus menjadi fondasi utama setiap pembangunan.

Karena bagi saya, kemajuan yang sesungguhnya adalah ketika setiap desa semakin berkembang tanpa kehilangan akar budaya yang telah diwariskan oleh para leluhur.

Bagikan:

Mungkin Anda Menyukai