BANGLI — Ketua Tim Pembina Posyandu Provinsi Bali, Ny. Putri Koster, menegaskan bahwa kebersihan lingkungan merupakan fondasi penting bagi kesehatan masyarakat sekaligus penopang keberlanjutan pariwisata Bali. Kesadaran menjaga kebersihan harus dibangun melalui kebiasaan sehari-hari, dimulai dari lingkungan keluarga hingga menjadi tanggung jawab bersama seluruh masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Putri Koster saat mendampingi kunjungan kerja Tim Pembina Posyandu Pusat dalam rangka asistensi penguatan peran Posyandu untuk mendukung penanganan sampah di Desa Songan A, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Selasa (20/10/2026). Kegiatan ini diikuti sekitar 150 kader Posyandu dari 15 banjar di Desa Songan.
Dalam arahannya, Putri Koster menyampaikan bahwa lingkungan yang bersih tidak hanya menciptakan kenyamanan, tetapi juga berpengaruh terhadap kesehatan fisik dan mental masyarakat. Oleh karena itu, kepedulian terhadap kebersihan perlu ditanamkan sejak dini di lingkungan keluarga agar tumbuh menjadi budaya dalam kehidupan sehari-hari.
Ia secara khusus mengingatkan pentingnya memilah sampah berdasarkan jenisnya sejak dari sumber. Pengelolaan sampah yang baik dinilai menjadi langkah nyata untuk mencegah pencemaran lingkungan sekaligus meminimalkan risiko penyakit yang dapat mengancam kesehatan masyarakat.
Menurutnya, orang tua memiliki peran penting dalam menanamkan kebiasaan menjaga kebersihan kepada anak-anak. Dengan pembiasaan sejak dini, perilaku hidup bersih dan bertanggung jawab terhadap lingkungan diharapkan menjadi bagian dari karakter generasi mendatang.
Putri Koster juga menegaskan bahwa persoalan sampah tidak dapat dipandang hanya dari aspek kesehatan. Sampah turut memengaruhi kelestarian lingkungan, kehidupan sosial masyarakat, serta keberlangsungan kebudayaan Bali. Karena itu, pengelolaan sampah berbasis sumber dan pembatasan penggunaan plastik sekali pakai perlu terus diperkuat dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat, termasuk kader Posyandu.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt.) Sekretaris Umum Tim Pembina Posyandu Pusat, Safriati Safrizal, mengapresiasi pelaksanaan enam bidang Standar Pelayanan Minimal (SPM) melalui Posyandu di Provinsi Bali. Menurutnya, Bali telah menunjukkan kemajuan dalam memperkuat peran Posyandu, khususnya dalam pelaksanaan pelayanan dasar yang mencakup enam bidang SPM.
Safriati menekankan bahwa kebersihan lingkungan juga menjadi modal penting dalam menjaga daya tarik Bali sebagai destinasi pariwisata dunia. Lingkungan yang sehat, bersih, dan nyaman merupakan salah satu faktor yang memengaruhi pengalaman wisatawan selama berkunjung.
Ia mengingatkan bahwa citra Bali sebagai destinasi unggulan harus didukung oleh kondisi lingkungan yang terjaga, termasuk terbebas dari persoalan sampah, terutama plastik sekali pakai. Apabila kebersihan tidak dikelola dengan baik, kenyamanan wisatawan dapat terganggu dan citra pariwisata Bali berpotensi terdampak.
Meski mengapresiasi pelaksanaan enam bidang SPM melalui Posyandu di Bali, Safriati mengingatkan agar implementasinya tidak dilakukan secara kaku. Posyandu diharapkan tetap mampu mengembangkan kegiatan pemberdayaan masyarakat yang sesuai dengan kebutuhan, karakteristik, dan potensi masing-masing wilayah, tanpa mengesampingkan pelayanan dasar.
Ia mencontohkan, di daerah yang memiliki potensi pariwisata seperti Bali, kegiatan pemberdayaan dapat dikembangkan melalui pelatihan keterampilan bagi generasi muda. Pelatihan menjadi pemandu wisata, fotografi, hingga peningkatan kemampuan bahasa asing dapat menjadi pilihan untuk menambah keterampilan dan membuka peluang ekonomi masyarakat.
Selain pengembangan keterampilan, Safriati menyoroti pentingnya pendataan masyarakat yang dilakukan kader Posyandu. Data yang dihimpun perlu direkapitulasi, diperbarui, dan ditindaklanjuti melalui koordinasi lintas sektor agar kebutuhan masyarakat dalam enam bidang SPM dapat teridentifikasi secara menyeluruh.
Ia juga mendorong kader Posyandu menerapkan pendekatan pelayanan proaktif atau jemput bola dengan mendatangi masyarakat secara langsung. Langkah tersebut penting untuk menjangkau warga yang mengalami keterbatasan akses pelayanan, masyarakat yang sedang sakit, kelompok rentan, maupun warga yang belum memahami mekanisme penyampaian kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi.
Safriati berharap kader Posyandu terus meningkatkan kreativitas, keaktifan, dan inovasi dalam menjalankan tugas. Kader tidak hanya diharapkan menunggu laporan masyarakat, tetapi juga aktif membangun komunikasi dan melakukan kunjungan dari rumah ke rumah agar tidak ada warga yang terabaikan dalam memperoleh pelayanan dasar.
Rangkaian kunjungan kerja tersebut turut diisi dengan peletakan batu pertama pembangunan fasilitas sanitasi komunal di Kantor Desa Songan A. Pembangunan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas sanitasi lingkungan sekaligus menyediakan sarana penunjang bagi kegiatan masyarakat, termasuk pelayanan Posyandu.
Fasilitas sanitasi komunal tersebut direncanakan mulai dibangun pada November 2026. Keberadaannya diharapkan memberikan manfaat bagi masyarakat setempat serta meningkatkan kesadaran dan tanggung jawab bersama dalam menjaga kebersihan dan merawat sarana sanitasi secara berkelanjutan.
Desa Songan A merupakan salah satu dari tiga desa di Kabupaten Bangli yang mendapat alokasi pembangunan fasilitas sanitasi komunal. Secara keseluruhan, terdapat sepuluh fasilitas sanitasi yang dialokasikan untuk Provinsi Bali, dengan tiga lokasi di Kabupaten Bangli, yakni Desa Songan A, Desa Songan B, dan Desa Belandingan.
Pembangunan fasilitas tersebut diharapkan dapat mendukung peningkatan kualitas kesehatan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat melalui penyediaan sarana sanitasi yang lebih memadai. Sinergi antara penguatan peran Posyandu, pengelolaan sampah dari sumber, dan penyediaan fasilitas sanitasi menjadi langkah penting dalam membangun lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan di Bali.(gpl-NSKLB)
