Dalam rangka meningkatkan serapan komoditas pertanian lokal Bali, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali mempertemukan Koperasi Multi Pihak Bali Bangkit Sejahtera (KMP BBS) dengan sejumlah pelaku HOREKA dan jaringan ritel. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari implementasi Peraturan Gubernur Bali Nomor 99 Tahun 2018 tentang Pemasaran dan Pemanfaatan Produk Pertanian, Perikanan, dan Industri Lokal Bali. Pertemuan berlangsung di Ruang Rapat Sabha Utama I, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, Rabu (19/8/2026).
Kegiatan yang dimulai pukul 09.30 WITA tersebut difasilitasi Kepala Bidang Pascapanen, Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, Dr. Ir. Ni Luh Sukadani, S.Pt., M.M.A, mewakili Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, Dr. I Wayan Sunada, S.P., M.Agb.
KMP BBS dihadiri langsung oleh I Gusti Agung Putu Gempa Yuliana atau Agung Gempa bersama tim, dengan dukungan dan arahan Ketua KMP BBS, Ir. I Ketut Sugihantara, M.S.A.
Dalam pertemuan tersebut, KMP BBS memaparkan konsep penguatan rantai pasok pangan lokal Bali yang menghubungkan petani dan kelompok tani sebagai sektor hulu dengan hotel, restoran, kafe, jaringan ritel, katering, dan berbagai lembaga sebagai pasar di sektor hilir.
Salah satu komoditas yang diperkenalkan adalah beras organik yang telah dikembangkan selama tiga tahun di Desa Sudaji, Kabupaten Buleleng. KMP BBS juga terus membangun jaringan dengan kelompok tani dan titik-titik produksi lainnya untuk memperkuat ketersediaan, kualitas, serta kontinuitas pasokan hasil pertanian Bali.
Sinergi tersebut tidak semata-mata diarahkan untuk menjual produk, tetapi membangun ekosistem pangan lokal yang saling menguatkan. Petani diharapkan memperoleh akses pasar dan kepastian serapan, sedangkan HOREKA serta jaringan ritel mendapatkan pasokan pangan lokal yang memenuhi standar kualitas, kuantitas, harga, pengemasan, dan kontinuitas sesuai kebutuhan usaha.

KMP BBS juga berkomitmen melakukan pembenahan secara bertahap, mulai dari pendataan produksi, pengendalian kualitas, pengemasan, distribusi, administrasi, hingga pemanfaatan sistem digital. Seluruh tahapan tersebut diperlukan agar produk pertanian Krama Bali semakin siap memasuki pasar HOREKA, ritel modern, katering, dan berbagai lembaga lainnya.
Pertemuan dihadiri perwakilan Supermarket Bintang, Warung Mina, Warung Subak Bali, Gosha Kitchen Patisserie, Nyonya Warti Buleleng, Hotel Nirmala, dan Tiara Dewata. Para pelaku usaha menyambut baik inisiatif tersebut serta membuka ruang komunikasi dan penjajakan kerja sama lebih lanjut.
Masukan dari pelaku usaha menjadi bagian penting dalam penyempurnaan sistem KMP BBS Food Supply, terutama berkaitan dengan kualitas produk, kepastian jumlah, kontinuitas pasokan, harga yang kompetitif, ketepatan pengiriman, dan pengemasan sesuai kebutuhan pasar.
Hadir pula Lembaga Sertifikasi Organik Kerta Bali Sejahtera yang menegaskan bahwa Kelompok Tani SAS, binaan KMP BBS, telah memperoleh Sertifikat Organik Nomor 005-LSOKBS-136-IDN-10-25 berdasarkan SNI 6729:2016 tentang Sistem Pertanian Organik, tertanggal 15 Oktober 2025.
Sertifikasi tersebut diperoleh melalui proses yang ketat dan memberikan kepastian bahwa kegiatan budidaya telah mengikuti standar sistem pertanian organik. Keberadaan sertifikat ini diharapkan semakin memperkuat kepercayaan pelaku usaha dan masyarakat terhadap beras organik yang dihasilkan petani.
Ketua KMP BBS, Ir. I Ketut Sugihantara, M.S.A., terus mendorong terbangunnya kerja sama yang berkelanjutan antara koperasi, kelompok tani, pemerintah, pelaku HOREKA, dan jaringan ritel. Sinergi tersebut diharapkan memberikan kepastian pasar bagi petani sekaligus menjamin ketersediaan produk pertanian lokal berkualitas bagi pelaku usaha dan masyarakat.
Agung Gempa menegaskan bahwa penguatan rantai pasok pangan lokal tersebut selaras dengan visi pembangunan Bali yang dijalankan Gubernur Bali Wayan Koster melalui Nangun Sat Kerthi Loka Bali, khususnya dalam menjaga alam, memperkuat pertanian lokal, meningkatkan kesejahteraan Krama Bali, serta membangun perekonomian Bali yang mandiri dan berkelanjutan.
Langkah tersebut juga sejalan dengan visi pembangunan nasional dalam memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan produktivitas pertanian, mendorong hilirisasi, memperluas akses pasar, dan mewujudkan kemandirian pangan.
Sebagai penggerak ekonomi digital Bali, Ketua Bidang TIK Dekopinwil Bali, Pimpinan LPK Garuda College Indonesia, serta pengelola sejumlah perusahaan yang bergerak di bidang teknologi informasi dan media di Bali, Agung Gempa terus mendorong pengembangan inovasi dan pemanfaatan teknologi digital untuk memperkuat daya saing serta memperluas akses pasar hasil pertanian Bali.
Teknologi digital akan dikembangkan secara bertahap untuk mendukung pendataan produksi, pemetaan ketersediaan komoditas, pengendalian kualitas, informasi harga, pencatatan transaksi, promosi, pemasaran, serta pengelolaan distribusi. Dengan dukungan sistem yang terintegrasi, hasil pertanian Bali diharapkan semakin mudah ditemukan, dipercaya, dan diserap oleh pasar.
“Inovasi dan teknologi harus hadir untuk membantu petani serta memperkuat ekosistem pertanian Bali. Kita ingin hasil pertanian Krama Bali tidak hanya semakin kuat memasuki pasar HOREKA dan jaringan ritel di Bali, tetapi juga mampu memperluas jangkauan menuju pasar nasional,” tegas Agung Gempa.
Menurutnya, penguatan pertanian tidak cukup hanya dilakukan pada sisi produksi. Diperlukan kerja bersama untuk memastikan hasil pertanian dapat diolah, dikemas, dipromosikan, didistribusikan, dan dipasarkan secara konsisten serta berkelanjutan.
“Kami tidak hanya membawa dan menawarkan beras. KMP BBS ingin membangun sistem dan sinergi dari hulu hingga hilir agar hasil pertanian Krama Bali memperoleh ruang pasar yang semakin luas. Petani mendapatkan kepastian serapan, sedangkan HOREKA dan jaringan ritel memperoleh pasokan lokal berkualitas sesuai standar kebutuhannya,” ujarnya.
Pertemuan ini menjadi langkah awal menuju kerja sama yang lebih konkret. Tindak lanjut akan dilakukan melalui pendataan kebutuhan pasar, penyampaian contoh produk, penyesuaian standar, pembenahan kemasan, penguatan distribusi, serta penyusunan pola kerja sama yang saling menguntungkan.
“Ngiring bersama-sama menguatkan hasil pertanian Krama Bali. Ketika pemerintah, petani, koperasi, lembaga sertifikasi, HOREKA, jaringan ritel, serta teknologi berjalan dalam satu ekosistem, seluruh pihak dapat tumbuh, maju, dan berkelanjutan,” pungkas Agung Gempa.
