WUJUDKAN SDM UNGGUL, AGUNG GEMPA: MAHASISWA HARUS MERANCANG CV SEJAK HARI PERTAMA KULIAH

Kuliah Bukan Hanya Mengejar Ijazah, Generasi Muda Perlu Bangun Skill, Portofolio, Pengalaman Digital, AI dan Entrepreneurship

DENPASAR — Mahasiswa perlu mengubah cara pandang terhadap masa kuliah. Tiga hingga empat tahun berada di perguruan tinggi bukan semata-mata perjalanan memperoleh ijazah, tetapi merupakan waktu yang sangat berharga untuk membangun kompetensi, pengalaman, jaringan dan portofolio sebelum memasuki dunia kerja.

Hal tersebut disampaikan praktisi IT dan entrepreneur Bali, I Gusti Agung Putu Gempa Yuliana atau Agung Gempa, menyikapi cepatnya perubahan teknologi dan kebutuhan sumber daya manusia di dunia usaha dan industri.

Menurutnya, tantangan terbesar generasi muda saat ini bukan kekurangan akses terhadap informasi. Justru informasi, teknologi, pembelajaran digital dan Artificial Intelligence (AI) tersedia semakin luas.

Tantangannya adalah bagaimana semua fasilitas tersebut benar-benar digunakan untuk meningkatkan kompetensi.

“Jangan menunggu lulus baru berpikir mau bekerja di mana. Sejak masuk kuliah, mahasiswa seharusnya sudah mulai merancang dirinya tiga atau empat tahun ke depan,” ujar Agung Gempa.

Ia menggunakan analogi sederhana mengenai curriculum vitae.

“CV itu sebenarnya bukan dibuat saat hendak melamar kerja. CV itu dirancang dari kertas kosong. Kita harus bertanya: tiga atau empat tahun lagi CV saya ingin berisi apa? Kalau ingin ada pengalaman magang, proyek, sertifikasi, kemampuan AI, bahasa, organisasi atau usaha, maka mulailah membangunnya sekarang,” katanya.

IJAZAH PENTING, TETAPI SKILL MENJADI PEMBEDA

Menurut Agung Gempa, ijazah tetap penting karena menunjukkan seseorang telah menempuh proses pendidikan formal. Namun ketika banyak pelamar memiliki jenjang pendidikan yang sama, perusahaan membutuhkan pembeda.

Pembeda tersebut adalah kompetensi nyata.

“Sekarang perusahaan semakin ingin tahu, Anda bisa apa? Pernah mengerjakan apa? Masalah apa yang mampu Anda selesaikan? Portofolionya mana? Setelah itu baru latar belakang pendidikan memperkuatnya,” ujarnya.

Karena itu, ia mengingatkan mahasiswa untuk serius dengan program studi yang telah dipilih.

Kompetensi dasar sesuai bidang ilmu harus menjadi core skill, kemudian diperluas melalui kemampuan digital, AI, komunikasi, kreativitas, kepemimpinan, problem solving dan entrepreneurship.

Ia menyebut pola tersebut sebagai integrated skills.

“Seorang akuntan yang memahami AI dan data akan punya nilai tambah. Orang komunikasi yang memahami digital analytics akan lebih kuat. Orang pertanian yang memahami pemasaran digital dan teknologi akan punya peluang lebih besar. Begitu juga bidang lainnya,” katanya.

DUNIA KERJA TAK SELALU MENANYAKAN NAMA JURUSAN

Perubahan teknologi juga melahirkan beragam profesi baru.

Menurut Agung Gempa, kebutuhan terhadap big data analyst, product developer, digital creator hingga berbagai pekerjaan berbasis AI menunjukkan bahwa nama pekerjaan terus berkembang mengikuti kebutuhan industri.

“Mana dulu kita mengenal profesi seperti sekarang? Karena itu mahasiswa tidak boleh membatasi dirinya hanya pada nama jurusan. Program studi adalah fondasi, tetapi di atas fondasi itu kita harus membangun kemampuan tambahan,” jelasnya.

Bagi siswa SMK, pendekatan serupa bahkan perlu dilakukan lebih awal.

Sekolah vokasi memiliki keunggulan pada pembelajaran berbasis praktik. Karena itu kompetensi teknis tersebut seharusnya semakin diperkuat dengan digital skill, kemampuan komunikasi, bahasa, AI serta pengalaman kerja nyata melalui praktik industri atau magang.

LEBIH DARI TIGA DEKADE DI DUNIA DIGITAL

Pandangan tersebut lahir dari perjalanan Agung Gempa selama lebih dari tiga dekade di dunia IT dan digital.

Ia mengikuti perkembangan teknologi mulai dari era komputer berbasis teks, perkembangan internet dan website, digitalisasi pelayanan publik, media online, media sosial, mobile technology hingga era Artificial Intelligence.

Dalam perjalanan tersebut, Agung Gempa terlibat dalam pengembangan website dan sistem informasi, pelatihan SDM pemerintahan, layanan publik berbasis digital, pengembangan media, pendampingan UMKM serta penguatan kewirausahaan berbasis teknologi.

Saat ini ia merupakan Direktur Utama PT Sinar Emas Garuda Sukses (PT SIMAS), pimpinan LPK Garuda College Indonesia, serta Ketua Bidang TIK Dekopinwil Bali periode 2025–2030. Ia juga aktif bersama Koperasi Multi Pihak Bali Bangkit Sejahtera (KMP BBS) dalam mendorong digitalisasi koperasi, pengembangan SDM dan penguatan berbagai unit usaha produktif.

Melalui pelatihan, workshop dan pendampingan, ia telah berinteraksi dengan berbagai kalangan, mulai aparatur, mahasiswa, generasi muda, pelaku UMKM hingga pengelola usaha.

Pengalaman tersebut membuatnya melihat bahwa kemampuan untuk terus belajar merupakan salah satu kompetensi terpenting di tengah perubahan teknologi.

DARI PENCARI KERJA MENJADI PENCIPTA PELUANG

Agung Gempa juga mendorong perguruan tinggi dan SMK agar membangun entrepreneurship sebagai bagian dari mindset peserta didik.

Tidak semua lulusan harus langsung membangun perusahaan, tetapi setiap lulusan perlu memahami bagaimana sebuah usaha bekerja.

“Bekerja di perusahaan juga bagian dari proses belajar. Pelajari sistemnya, kedisiplinannya, bagaimana melayani pelanggan, bagaimana perusahaan mengelola uang dan tim. Setelah memiliki pengalaman, kita harus punya keberanian melihat peluang untuk mandiri,” katanya.

Dengan kombinasi pendidikan, kompetensi, teknologi dan entrepreneurship, ia optimistis generasi muda Bali tidak hanya mampu bersaing mendapatkan pekerjaan, tetapi juga menciptakan lapangan kerja.

“Kalau kita serius membangun SDM sejak sekolah dan kuliah, saya yakin Bali dan Indonesia tidak akan kekurangan talenta. Yang perlu kita bangun adalah generasi yang kompeten, berkarakter, kreatif, melek digital dan berani mandiri,” tutup Agung Gempa.

Komitmen tersebut saat ini diwujudkan melalui sejumlah ekosistem pendidikan, usaha dan digital yang dikembangkan bersama tim, di antaranya LPK Garuda College Indonesia — garudacollegeindonesia.online; KMP Bali Bangkit Sejahtera — kmpbalibangkit.com; pengembangan unit Food Supply/FoodFresh; Love Bali/Pusat Informasi Bali — lovebali.id; serta jaringan Media Bali Online Group melalui mediabalionline.com, nangunsatkerthilokabali.com dan agunggempa.mediabalionline.com, yang diperkuat berbagai kanal dan jejaring media sosial serta platform digital lainnya.

(LIPSUS)

Bagikan:

Mungkin Anda Menyukai