BERSAMA BIJAK MENYIKAPI POTONGAN KONTEN: PERIKSA KONTEKS SEBELUM MEMBAGIKAN

DENPASAR — Potongan singkat video Gubernur Bali Wayan Koster yang dinarasikan menjawab “diam kamu” ketika ditanya mengenai lapangan pekerjaan kembali beredar di media sosial. Video tersebut perlu dilihat secara utuh agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.

Video itu bukan merupakan peristiwa baru. Rekaman tersebut diambil saat Gubernur Bali Wayan Koster bersama Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa memimpin dan memantau penertiban 48 bangunan di kawasan Pantai Bingin, Desa Pecatu, Kuta Selatan, Badung, pada 21 Juli 2025.

Saat itu, pemerintah melakukan penertiban terhadap bangunan usaha yang dinyatakan tidak memiliki kelengkapan perizinan dan berdiri di atas lahan pemerintah sehingga dinilai menyalahi aturan yang berlaku.

Penertiban tersebut juga tidak dilakukan secara tiba-tiba. Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa menjelaskan bahwa tahapan penertiban telah dilaksanakan sesuai standar operasional prosedur (SOP). Pemerintah Kabupaten Badung juga telah menyampaikan teguran tertulis sebanyak tiga kali sebelum pembongkaran dilaksanakan.

Dalam peristiwa yang sama, Gubernur Koster turut menyampaikan perhatian terhadap nasib para pekerja yang terdampak.

“Kami bukan tidak melindungi pekerja, kami melindungi. Tapi kalau tidak tertib, melanggar aturan, menggunakan aset orang lain, tentu ini tidak bisa dibiarkan,” ujar Gubernur Koster saat itu.

Menanggapi kembali beredarnya potongan video tersebut, praktisi IT dan komunikasi digital, Agung Gempa, mengajak kita semua untuk menyikapinya dengan bijak, kepala dingin dan tidak terburu-buru menarik kesimpulan.

Ia mengingatkan bahwa potongan video berdurasi singkat dapat menghilangkan bagian awal, bagian akhir, serta suasana lengkap suatu kejadian. Akibatnya, sebuah ucapan dapat dimaknai berbeda dan memunculkan perdebatan yang tidak membawa manfaat bagi masyarakat.

Sebelum membuat, mengedit konten dan membagikan ke ruang digital, kita diharapkan memeriksa sumbernya, memastikan waktu dan lokasi kejadian, mencari rekaman yang lebih lengkap, serta membandingkannya dengan pemberitaan dari sumber informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

“Jangan langsung membagikan informasi hanya karena judulnya menarik atau narasinya menggugah emosi. Berhenti sejenak, baca secara lengkap, periksa kebenarannya, kemudian pikirkan dampaknya bagi orang lain,” katanya.

Menurut Agung, membangun Bali yang lebih baik tidak cukup hanya melalui pembangunan fisik. Bali juga membutuhkan kebersamaan, rasa saling percaya, komunikasi yang baik, serta sinergi antara pemerintah, masyarakat, tokoh adat, pelaku usaha, generasi muda, media dan semua.

“Perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar. Justru dari perbedaan itu kita dapat berdiskusi dan mencari solusi terbaik. Yang terpenting, jangan sampai perbedaan dimanfaatkan untuk membuat masyarakat saling menyerang dan terpecah,” jelasnya.

Agung Gempa menegaskan bahwa literasi digital bukan sekadar kemampuan menggunakan sarana digital dan media sosial. Literasi digital juga berarti mampu memahami informasi, membedakan fakta dengan opini, menghormati perbedaan, serta bertanggung jawab terhadap setiap konten yang dibagikan.

Ngiring sareng-sareng menjaga literasi digital Bali dan Nasional, persatuan, memperkuat gotong royong, dan membangun sinergi demi Bali yang semakin maju, tertib dan harmonis,” tutup Agung Gempa.

Bagikan:

Mungkin Anda Menyukai