DENPASAR – Pemerintah Provinsi Bali secara resmi menyiapkan strategi pemerataan kunjungan wisatawan melalui peluncuran Bali Calendar of Event (CoE) 2026. Langkah strategis ini merupakan implementasi nyata dari visi Gubernur Bali, Wayan Koster, yaitu Nangun Sat Kerthi Loka Bali melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana menuju Bali Era Baru, yang menekankan pada keseimbangan alam, manusia, dan kebudayaan Bali.
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, I Wayan Sumarajaya, saat ditemui media NSKLB di kantornya menjelaskan bahwa sebanyak 56 agenda pariwisata telah disusun secara komprehensif. Upaya ini dilakukan untuk memastikan aktivitas wisata tersebar merata sepanjang tahun dan tidak lagi terfokus hanya pada lokasi maupun periode tertentu, sehingga mampu menjaga kesucian dan keharmonisan jagat Bali.
Dalam keterangannya di Denpasar pada Senin, 19 Januari 2026, Sumarajaya menyampaikan bahwa jumlah kegiatan pada tahun 2026 mengalami peningkatan signifikan sebagai wujud keseriusan Pemprov Bali dalam membangun pariwisata yang lebih tertata, berkualitas, dan bermartabat. Dari total 56 kegiatan yang masuk dalam kalender tersebut, komposisinya didominasi oleh 40 kegiatan budaya, disusul dengan tujuh kegiatan olahraga, empat festival musik, dua kegiatan MICE, dua festival kuliner, serta satu kegiatan fesyen.
Setiap agenda dalam kalender ini dirancang agar tidak berjalan secara parsial atau sendiri-sendiri, melainkan dalam satu kesatuan sistem pembangunan pariwisata Bali yang saling terhubung. Sumarajaya menegaskan bahwa seluruh kegiatan disinergikan untuk mendukung satu arah pembangunan pariwisata berkelanjutan yang berbasis pada kearifan lokal sesuai dengan karakter unik setiap daerah di Bali.
Orientasi pariwisata Bali pada tahun 2026 kini tidak lagi semata-mata mengejar peningkatan jumlah kunjungan atau kuantitas. Pemerintah Provinsi Bali kini lebih menekankan pada kualitas pengalaman wisatawan, pelestarian budaya luhur, serta perlindungan lingkungan alam secara menyeluruh. Hal ini sejalan dengan upaya memuliakan adat istiadat yang menjadi akar utama daya tarik pariwisata Bali di mata dunia.
Penyebaran event yang merata di seluruh kabupaten dan kota di sepanjang tahun diharapkan mampu menjadi solusi nyata bagi pemerataan ekonomi. Dengan pola ini, penumpukan wisatawan di wilayah tertentu dapat dihindari sehingga dampak ekonominya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat luas, termasuk desa adat dan komunitas lokal, sesuai dengan prinsip kemandirian ekonomi dalam Tri Sakti Bung Karno.
Kalender Kegiatan Bali 2026 ini disusun melalui kolaborasi erat antara Pemerintah Provinsi Bali, pemerintah kabupaten/kota, perangkat daerah, komunitas, serta pelaku industri pariwisata. Untuk mendukung efektivitas promosi, Dinas Pariwisata Bali juga akan menggandeng desa adat, komunitas kreatif, akademisi, serta media massa dalam penyebarluasan informasi kegiatan agar gaungnya merata baik di tingkat nasional maupun internasional.
