KLUNGKUNG — Bupati Klungkung I Made Satria bersama Ketua TP PKK Kabupaten Klungkung Ny. Eva Satria dan Wakil Bupati Klungkung Tjokorda Gde Surya Putra menghadiri undangan atau uleman rangkaian upacara karya keagamaan di tiga pura pada Sabtu (10/10/2026). Kehadiran pimpinan daerah ini menjadi bentuk dukungan terhadap pelestarian adat, tradisi, dan kebudayaan Bali yang diwariskan secara turun-temurun.
Adapun tiga lokasi upacara yang dihadiri meliputi Pura Dalem Pasek Gelgel Semaagung, Desa Tusan, Kecamatan Banjarangkan; Pura Pajenengan Pande, Desa Tegak, Kecamatan Klungkung; serta Pura Dadia Batur Kubon Tubuh Lebu, Sidemen, Kabupaten Karangasem.
Di Pura Dalem Pasek Gelgel Semaagung, Desa Tusan, dilaksanakan Karya Ngenteg Linggih, Nubug Pedagingan, Mapadudusan Alit, dan Medasar Caru Balik Sumpah. Sementara itu, di Pura Pajenengan Pande, Desa Tegak, rangkaian karya meliputi Ngenteg Linggih, Caru Walik Sumpah Agung, Mupuk Pedagingan, Mapadudusan Agung, dan Manawa Ratna.
Adapun di Pura Dadia Batur Kubon Tubuh Lebu, Sidemen, Kabupaten Karangasem, dilaksanakan Karya Ngenteg Linggih, Mapadudusan Madya, dan Tawur Wrespati Kalpa.
Di sela-sela kegiatan, Bupati Satria menegaskan bahwa adat dan agama merupakan bagian penting dari identitas masyarakat Bali yang harus dijaga keberlangsungannya. Menurutnya, sinergi antara pemerintah dan krama pengempon pura diperlukan agar tradisi keagamaan tetap lestari di tengah perkembangan zaman.
“Adat dan agama adalah akar identitas kita di Bali. Melalui sinergi yang kuat antara pemerintah dan masyarakat, kami berharap momentum upacara ini dapat mempererat persaudaraan, menjaga kerukunan, sekaligus memperkokoh ketahanan budaya di tengah arus modernisasi,” ujar Bupati Satria.
Rangkaian upacara berlangsung khidmat dengan dihadiri tokoh masyarakat setempat serta krama pengempon pura. Sebagai bentuk dukungan terhadap pelaksanaan yadnya, Bupati Satria juga menyerahkan dana punia yang diterima langsung oleh masing-masing kelihan pengempon pura.
Pemerintah Kabupaten Klungkung berharap pelaksanaan karya yadnya tersebut tidak hanya memperkuat nilai spiritual, tetapi juga meningkatkan kebersamaan dan solidaritas sosial masyarakat. Momentum ini sekaligus menjadi pengingat pentingnya menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan alam sebagaimana terkandung dalam ajaran Tri Hita Karana.(gpl-NSKLB)
Salam Mahottama
