DENPASAR, 30 Oktober 2026 – Pemerataan akses informasi menjadi salah satu kebutuhan penting dalam pembangunan masyarakat modern. Di tengah perkembangan teknologi komunikasi dan semakin luasnya penggunaan layanan digital, masyarakat di berbagai wilayah Bali membutuhkan akses informasi, pendidikan, dan hiburan yang berkualitas. Namun, kondisi geografis pegunungan dan perbukitan membuat layanan penyiaran tidak selalu dapat menjangkau seluruh wilayah dengan kualitas yang sama.
Tantangan tersebut menjadi salah satu latar belakang pembangunan Turyapada Tower Komunikasi Bali Smart 6.0 Kerthi Bali di kawasan Desa Adat Amertasari, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng. Infrastruktur yang dikembangkan Pemerintah Provinsi Bali pada periode pertama kepemimpinan Gubernur Bali Wayan Koster itu tidak hanya dirancang sebagai pusat pemancar televisi digital, tetapi kemudian diperluas menjadi kawasan teknologi, pendidikan, dan pariwisata yang diharapkan mampu mendukung pertumbuhan ekonomi Bali Utara.
Melalui rubrik Bali Membangun, I Gusti Agung Putu Gempa Yuliana atau Agung Gempa, praktisi IT Digital, entrepreneur, dan pemerhati kebijakan publik, mengulas perjalanan pembangunan Turyapada Tower sebagai salah satu contoh pengembangan infrastruktur digital yang memiliki hubungan dengan pelayanan masyarakat, pemerataan informasi, dan ekonomi daerah.
Pemilihan lokasi Turyapada Tower berkaitan dengan kebutuhan teknis penyiaran. Infrastruktur yang dibangun pada kawasan berketinggian sekitar 1.521 meter di atas permukaan laut tersebut memiliki menara setinggi sekitar 115 meter. Dengan posisi geografis yang strategis, Turyapada dirancang untuk meningkatkan kualitas jangkauan siaran televisi digital, terutama pada wilayah Bali Utara yang menghadapi hambatan penerimaan sinyal akibat kondisi alam.
Kehadiran menara tersebut juga merupakan bagian dari transformasi penyiaran nasional dari teknologi analog menuju digital. Teknologi penyiaran digital memberikan kemungkinan penyediaan lebih banyak saluran dengan kualitas gambar dan suara yang lebih baik, sepanjang wilayah penerimaan memiliki cakupan sinyal dan perangkat yang sesuai.
Setelah melewati tahapan pembangunan infrastruktur, Turyapada Tower mulai menunjukkan fungsi pelayanannya melalui peluncuran siaran televisi digital secara bertahap pada 2025. Tahap pertama dilaksanakan pada 18 April 2025 dengan 10 kanal siaran, kemudian dilanjutkan pada 18 Agustus 2025 melalui penambahan 12 kanal.
Perkembangan berikutnya berlangsung pada Sabtu, 27 Desember 2025, ketika Gubernur Koster meluncurkan tahap ketiga siaran digital Turyapada Tower. Melalui peluncuran tersebut, jumlah kanal yang telah diluncurkan mencapai 30, melibatkan empat penyelenggara multipleksing, yakni ANTV, Nusantara TV, TVRI, dan Metro TV.
Pencapaian tersebut menjadi perkembangan konkret dari fungsi penyiaran Turyapada Tower. Bagi masyarakat yang berada dalam wilayah jangkauan, keberadaan siaran digital dapat memperluas pilihan informasi dan hiburan tanpa memerlukan layanan televisi berlangganan, meskipun penerima tetap membutuhkan televisi digital atau perangkat penerima yang sesuai.
Manfaat layanan penyiaran mempunyai arti lebih luas daripada sekadar bertambahnya jumlah saluran televisi. Akses terhadap informasi dapat mendukung pendidikan masyarakat, penyampaian informasi publik, kegiatan kebudayaan, serta perkembangan industri penyiaran dan konten kreatif lokal.
Meski demikian, peluncuran 30 kanal tidak dapat langsung diartikan bahwa seluruh rumah tangga di Bali telah menerima siaran dengan kualitas yang sama. Kondisi geografis, arah antena, perangkat penerima, dan cakupan teknis masih memengaruhi kualitas layanan. Karena itu, pemerataan jangkauan tetap membutuhkan pemantauan serta penguatan infrastruktur pada wilayah yang belum memperoleh penerimaan optimal.
Sejalan dengan pengoperasian siaran digital, Pemerintah Provinsi Bali mengembangkan fungsi Turyapada Tower menjadi kawasan yang menghubungkan teknologi dengan pariwisata. Pengembangan tahap berikutnya mencakup penataan kawasan, fasilitas edukasi, serta sarana rekreasi yang dirancang untuk menarik kunjungan masyarakat dan wisatawan.
Sejumlah fasilitas yang direncanakan antara lain planetarium, skywalk, jembatan kaca, restoran dengan panorama kawasan pegunungan, ruang pertemuan, area terbuka, sentra UMKM, dan sarana pendukung wisata lainnya. Pengembangan tersebut juga meliputi rencana gondola atau kereta gantung yang menghubungkan fasilitas akses menuju kawasan menara.
Pada 2026, pembangunan tahap kedua terus menjadi perhatian pemerintah provinsi. Dalam peninjauan pada 17 Mei 2026, Gubernur Koster bersama Pemerintah Kabupaten Buleleng membahas perkembangan pembangunan kawasan, penataan akses jalan, serta kebutuhan pengadaan lahan untuk pembangunan fasilitas gondola.
Pengadaan lahan dilakukan melalui koordinasi dengan masyarakat pemilik tanah di sekitar kawasan. Pemerintah menyampaikan bahwa penentuan nilai penggantian dilakukan berdasarkan proses penilaian oleh pihak yang berwenang, sehingga pembangunan fasilitas wisata dapat berjalan dengan memperhatikan ketentuan pengadaan tanah serta hak masyarakat yang terdampak.
Tahapan pengadaan lahan tersebut mempunyai arti penting karena pengembangan kawasan wisata tidak hanya berkaitan dengan kesiapan bangunan utama. Akses kendaraan, keselamatan pengunjung, sarana parkir, pengaturan lalu lintas, serta kualitas pelayanan juga menjadi unsur penting dalam keberhasilan operasional kawasan.
Pemerintah Provinsi Bali menargetkan pengembangan fasilitas wisata Turyapada Tower dapat memasuki tahap operasional pada akhir 2026. Namun, hingga Oktober 2026, target penyelesaian fasilitas wisata tersebut masih perlu dibedakan dari fungsi penyiaran digital yang telah berjalan sejak 2025. Keberhasilan pengoperasian seluruh kawasan baru dapat dinilai berdasarkan penyelesaian pekerjaan, pengujian keselamatan, kesiapan pengelola, dan pembukaan layanan kepada masyarakat.
Dalam jangka panjang, Turyapada Tower memiliki peluang untuk menjadi salah satu pusat aktivitas baru di Bali Utara. Apabila kawasan wisata dan fasilitas pendidikan dapat beroperasi dengan baik, kunjungan masyarakat berpotensi membuka kegiatan ekonomi bagi pelaku usaha makanan, transportasi, kerajinan, jasa wisata, serta UMKM di sekitar Buleleng.
Namun, dampak ekonomi tersebut tidak muncul dengan sendirinya hanya karena pembangunan fasilitas. Pemerintah dan pengelola kawasan perlu memperhatikan keterlibatan masyarakat lokal, kesempatan usaha, kesiapan tenaga kerja, pengelolaan lingkungan, serta kualitas aksesibilitas agar manfaat pembangunan tidak hanya terkonsentrasi pada pengelola utama.
Bagi dunia pendidikan, pengembangan fasilitas teknologi dan planetarium dapat menjadi sarana pembelajaran yang menarik apabila didukung program edukasi yang terencana. Kunjungan sekolah, kegiatan pengenalan astronomi, pembelajaran teknologi komunikasi, dan kegiatan kreativitas digital dapat memperluas manfaat kawasan bagi generasi muda.
Dalam perspektif Agung Gempa, pembangunan Turyapada Tower memperlihatkan hubungan antara infrastruktur teknologi dan kebutuhan pembangunan manusia. Pemerataan layanan digital bukan hanya persoalan menghadirkan perangkat atau bangunan, tetapi juga memastikan teknologi tersebut dapat digunakan untuk meningkatkan pengetahuan, kreativitas, dan produktivitas masyarakat.
Kehadiran pusat penyiaran juga perlu dihubungkan dengan pengembangan kemampuan produksi konten lokal. Bali mempunyai potensi seni, budaya, pendidikan, pariwisata, dan ekonomi kreatif yang dapat diperkenalkan lebih luas melalui media digital. Dengan dukungan ekosistem penyiaran dan peningkatan kompetensi, pelaku kreatif lokal mempunyai kesempatan untuk menghasilkan konten yang semakin berkualitas.
Penguatan tersebut sejalan dengan arah Bali Pulau Digital yang menjadi salah satu prioritas pembangunan Pemerintah Provinsi Bali. Namun, pemerataan digital perlu diukur secara menyeluruh, tidak hanya melalui jumlah kanal televisi atau fasilitas yang dibangun, tetapi juga melalui jangkauan layanan, kualitas penerimaan, keterjangkauan akses, serta manfaatnya bagi kehidupan masyarakat.
Keberadaan Turyapada Tower juga memiliki hubungan dengan agenda pemerataan pembangunan wilayah. Pengembangan infrastruktur dan destinasi baru di Buleleng berpotensi memperluas aktivitas ekonomi di luar pusat-pusat pariwisata Bali Selatan, sepanjang pembangunan tersebut terhubung dengan akses jalan, transportasi, pengelolaan lingkungan, dan kebijakan pemberdayaan masyarakat.
Memasuki akhir 2026, perkembangan pembangunan tahap kedua, kesiapan fasilitas wisata, pengadaan lahan, serta kualitas jangkauan siaran digital menjadi aspek penting untuk dievaluasi. Masyarakat perlu memperoleh informasi yang jelas mengenai fasilitas yang telah beroperasi, pekerjaan yang masih berlangsung, dan manfaat yang dapat diukur setelah kawasan dikembangkan.
Melalui rubrik Bali Membangun, Agung Gempa mengajak masyarakat memahami bahwa pembangunan infrastruktur digital mempunyai fungsi strategis dalam memperluas akses pelayanan dan kesempatan ekonomi. Namun, manfaat jangka panjangnya tetap membutuhkan tata kelola yang profesional, teknologi yang terpelihara, serta keterlibatan masyarakat dalam memanfaatkan peluang yang tersedia.
Pada akhirnya, Turyapada Tower tidak hanya menghadirkan menara penyiaran di kawasan pegunungan Bali Utara. Lebih jauh, pembangunan ini menjadi bagian dari upaya menghubungkan pemerataan informasi, pengembangan teknologi, pendidikan, pariwisata, dan ekonomi masyarakat.
Apabila pengembangan kawasan dapat dilaksanakan secara berkelanjutan dan hasilnya terus dievaluasi, Turyapada Tower diharapkan memberikan manfaat yang lebih luas bagi Buleleng serta menjadi bagian dari pembangunan Bali yang semakin merata, modern, dan tetap berakar pada karakteristik wilayahnya.
(NSKLB)
